Thursday, December 2, 2010

Water Stress " Pembahasan dan Simpulan"

Di dalam tanah, air berada di dalam ruang pori diantara padatan tanah. Jika tanah dalam jenuh air , semua ruang pori tanah terisi oleh air. Dalam keadaan ini jumlah air yang disimpan di dalam tanah, jadi  merupakan jumlah air maksimum yang disebut  " Kapasitas Penyimpanan Air Maksimum". Selanjutnya, jika tanah kita biarkan mengalami pengeringan, sebagian ruang pori akan terisi udara dan sebagian akan terisi oleh air 
Sebagian air yang diperlukan tumbuhan berasal dari tanah (disebut air tanah)

Air ini harus tersedia pada saat tumbuhan memerlukannya. Kebutuhan air setiap tumbuhan berbeda (Hakim,1986). Air diperlukan oleh tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, antara lain untuk memenuhi transpirasi dalam proses asimilasi untuk pembentukan karbohidrat, serta untuk menyangkut hasil-hasil fotosintesisnya. Air tanah berfungsi sebagai pelarut unsure hara dalam tanah

Kadar dan komposisi udara tanah sebagian besar ditentukan oleh hubungan air dan tanah. Udara tanah yang terdiri dari campuran gas itu bergerak menuju ke pori-pori yang belum diduduki oleh air (Buckman, 1982). Air terdapat di dalam tanah karena ditahan (diserap) oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air atau karena keadaan drainase yang kurang baik (Sarwono,1989)

Air dapat meresap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya-gaya adhesi, kohesi dan gravitasi. Dengan adanya gaya-gaya tersebut, maka  air dalam tanah dapat dibedakan menjadi :

   1.Air Higroskopik
Yaitu air yang diserap tanah sangat kuat sehingga tidak dapat digunakan tanaman (adhesi antara tanah dengan air). Air ini terikat kuat pada matriks tanah, ditahan dengan tegangan 31 - 10.000 atm (pF 4,0 - 4,7)
   2.Air Kapiler
Yaitu air dalam tanah dimana daya kohesi (tarik menarik antara butir-butir air ) dan daya adhesi (antara air dan tanah) lebih kuat dari gravitasi.air ini dapat bergerak ke samping atau keatas karena gaya-gaya kapiler. Sebagian besar air dari air kapiler merupakan air yang tersedia (dapat diserap) bagi tanaman. Air kapiler ini menempati pori mikro dan dinding pori makro, ditahan antara tegangan 1/3 - 15 atm (pF 2,54 - 4,20)

Dalam menentukan jumlah air yang tersedia bagi tanaman ada beberapa istilah :
1. Kapasitas Lapang
Keadaan tanah yang cukup lembab yang menunjukkan jumlah air yang terbanyak yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi. Ditahan pada tegangan 1/3 atm (pF 2,54).

2. Titik Layu Permanen
Kandungan air tanah dimana akar-akar tanaman mulai tidak mampu lagi menyerap air dari tanah, sehingga kemudian tanaman menjadi layu. Air ditahan pada tegangan 15 atm (pF 4,2)

3.Air tersedia
Banyaknya air yang tersedia bagi tanaman yaitu selisih antara kadar air pada kapasitas lapang dikurangi kadar air pada titik layu permanen.
Terbatasnya air tanah yang tersedia sering kali menimbulkan masalah kekurangan air pada tanaman, karena pertumbuhan tanaman secara luas dikendalikan oleh keseimbangan air di dalam tanaman

Kekurangan air ini menyebabkan proses fisiologi terganggu dan pertumbuhan tanaman terhambat, tanaman menjadi kerdil dan bahkan akhirnya tanaman menjadi mati

Kekurangan air ini dapat terjadi pada saat hari terang dan panas, tetapi biasanya dapat diimbangi dengan penyerapan air selama malam hari. Apabila kandungan air tanah rendah, penyerapan air menjadi lambat dan tidak dapat mengimbangi kecepatan air yang hilang melalui proses transpirasi serta tidak dapat digantikan lagi oleh laju penyerapan air selama malqam hari maka tanaman akan menjadi layu

Proses kelayua
n pada tanaman terdiri atas 3 tingkatan yaitu :
1. Tingkat kelayuan awal  ( incipient wilting ), yaitu pada saat tanaman akan mulai mengaalami kelayuan
2. Tingkat kelayuan sementara ( temporary wilting ), keadaan ini ditandai dengan layunya bagian tanaman, tetapi hal ini dapat disembuhkan dengan jalan memberi air atau menyiram tanaman.
3. Tingkat kelayuan permanen ( permanen wilting ), hal ini ditandai dengan mulai matinya bagian tanaman dan keadaan ini sudah tidak dapat untuk disembuhkan dengan jalan memberi air pada tanaman

Percobaan yang dilakukan kali ini untuk mengetahui tingkat kelayuan pada tanaman palawija yaitu jagung, kedelai dan kacang hijau. Pengamatan yang dilakukan terhadap tanaman tersebut agar dapat diketahui kadar air tanah nya pada tiga tingkat kelayuan yaitu layu awal, layu sementara dan layu permanen namunperlu juga diketahui bobot tanah basah dan bobot tanah kering oven pada 3 tingkatan kelayuan itu

Tanaman jagung pada layu awal memiliki rata-rata bobot basah 35,45 gr dan bobot tanah kering oven 28,30 gr sehingga kadar airnya dapat diketahui yaitu sebesar 25,152 gr. Pada layu sementara memiliki rata-rata bobot basah 34,82 gr dan bobot tanah kering ove 27,99 gr sehingga kadar airnya dapat diketahui yaitu sebesar 23,61 gr. Dan pada saat layu permanen memiliki rata-rata bobot basah  35,15 gr dan bobot tanah kering oven  28,694 gr sehingga kadar airnya dapat diketahui yaitu sebesar 15,28 gr

Tanaman kedelai pada layu awal memiliki rata-rata bobot basah 36,6438 gr dan bobot tanah kering oven 27,72 gr sehingga kadar airnya dapat diketahui yaitu sebesar 30,976 gr. Pada layu sementara memiliki rata-rata bobot basah 36,514 gr dan bobot tanah kering oven  29,2 gr sehingga  kadar  airnya dapat diketahui yaitu sebesar 23,988 gr

Dan pada saat layu permanen memiliki rata-rata bobot basah  39,356 gr dan bobot tanah kering oven  32,862 gr sehingga kadar airnya dapat diketahui yaitu sebesar 16,062 gr

Tanaman kacang hijau  pada layu awal memiliki rata-rata bobot basah 35,268 gr dan bobot tanah kering oven 26,608 gr sehingga kadar airnya dapat diketahui yaitu sebesar 30,932 gr. Pada layu sementara memiliki rata-rata bobot basah 34,376 gr dan bobot tanah kering oven 26,478 gr sehingga kadar airnya dapat diketahui yaitu sebesar 27,692 gr

Dan pada saat layu permanen memiliki rata-rata bobot basah  35, 504 gr dan bobot tanah kering oven  29,592 gr sehingga kadar airnya dapat diketahui yaitu sebesar 13,226 gr

Kenyataan menunjukan bahwa terdapat perbedaan di antara berbagai jenis tanaman dalam hal ketahanan terhadap kekurangan air atau kelayuan

Faktor utama yang mempengaruhi ketahanan tanaman ( kelayuan tanaman ) terhadap kekeringan adalah jenis tanah terutama tekstur tanah dan jenis atau spesies tanaman, karena sifatnya yang memungkinkan mampu menahan kehilangan air serta mampu menyerap air pada keadaan air tanah yang sangat rendah

Ketahanan terhadap kekeringan tanaman dapat dilihat dari kemampuannnya untuk tidak layu pada kadar air tanah yang sangat rendah.

SIMPULAN

Proses kelayuan pada tanaman terdiri atas 3 tingkatan yaitu :

1.Tingkat kelayuan awal  ( incipient wilting ), yaitu pada saat tanaman akan mulai mengaalami kelayuan

2.Tingkat kelayuan sementara ( temporary wilting ), keadaan ini ditandai dengan layunya bagian tanaman, tetapi hal ini dapat disembuhkan dengan jalan memberi air atau menyiram tanaman

3.Tingkat kelayuan permanen ( permanen wilting ), hal ini ditandai dengan mulai matinya bagian tanaman dan keadaan ini sudah tidak dapat untuk disembuhkan dengan jalan memberi air pada tanaman

Water Stress " Pendahuluan"

Salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman adalah air. Air mempunyai peranan yang penting bagi pertumbuhan tanaman, hal ini karena air merupakan penyusun utama dari protoplasma sel, sebagai bahan pelarut dan memberikan suatu media untuk pengangkutan

Air juga diperlukan sebagai bahan penyusun senyawa baru, pemelihara tekanan turgor dan secara tidak langsung dapat memlihara suhu tanaman

Air merupakan bagian terbesar dari jaringan tumbuh-tumbuhan. Semua proses tumbuh dan perkembangan tanaman yang penting terjadi dalam air. Unsur-unsur hara dari tanah yang diperlukan tanaman harus larut atau dilarutkan dalam air sebelum dapat diisap oleh akar yang seterusnya diangkut ke semua bagian tanaman oleh air. Air diperlukan dalam proses asimilasi

Air diperlukan pula sebagai pengatur suhu (Suwasono Heddy, 1987) Pertumbuhan akan menjadi tidak normal (terganggu) apabila tanaman tumbuh di tempat yang kelebihan atau kekurangan air berupa kelayuan tanaman

Telah diketahui bagaimana gerakan air dari dalam tanah ke dalam tanaman sampai ke daun yang selanjutnya sampai ke atas. Bagaimana pengaruhnya bila lingkungan hidup tanaman mengalami kekurangan air yang disebut water stress Dengan demikian tanaman mengalami gangguan dalam proses metabolismenya

Bila suatu tanah tidak lagi mengandung air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan suatu tanaman, tanaman mengalami proses kelayuan
Pada keadaan demikian, tanaman mengalami kekurangan air yang sangat atau water stress, maka keadaan tanah- tanah ini disebut titik layu (Dwidjo Seputro (1984) dalam Suwasono Heddy, 1987)

Kelayuan ini disebabkan absorbsi air karena tidak mencukupi untuk proses transpirasi tersebut

Water stress ini tidak akan pernah terjadi selama tanaman ini mendapat pengairan yang teratur, dan akan menjadi problema utama pada tanaman di lahan kering yang pengairannya tergantung pada curah hujan

Status air merupakan faktor pembatas yang penting pada proses fotosintetis. Tanaman yang mengalami stress air akan mengalami penutupan stomata untuk mengurangi proses transpirasi dari daun (Sugeng Prasetyo (1982) dalam Suwasono Heddy, 1987)

Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum ini yaitu agar praktikan mengetahui perbedaan ketahanan terhadap kekeringan dan kadar air tanah pada tingkat kelayuan dari beberapa jenis/spesies tanaman palawija

Kompetisi " Pembahasan dan Simpulan"

Kompetisi adalah peristiwa yang sangat umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan sudah disadari sejak lama sebagai faktor penting dalam kehidupan. Dalam bidang tanaman, manusia telah menyadari sejak awal budidaya tanaman akan peranan kompetisi dalam kehidupan tanaman.

Ini dapat dilihat dari pemberantasan gulma yang mempunyai pengaruh negatif terhadap tanaman yang diusahakan. Kompetisi diantara individu tanaman dari jenis yang sama pasti juga telah disadari sejak awal usaha budidaya tanaman, walaupun mungkin dalam pengertian yang berbeda dari yang sekarang.
Petani melalui pengalamannya mengetahui bahwa hasil yang diperoleh sedikit jika populasi tanaman rendah, dan tanaman tidak tumbuh terlalu baik jika jarak tanam terlalu rapat.

Akhirnya mereka memillih suatu kepadatan yang dianggap layak memberikan hasil yang tertinggi. Fakta lain yang menunjukan kesadaran akan kompetisi adalah praktik penjarangan tanamn dan pengurangan percabangan tanaman

Kompetisi dapat terjadi tidak hanya diantara tanaman baik dari varietas atau spesies yang sama atau berbeda, tetapi juga diantara organ dari tanaman yang sama. Peristiwa kompetisi untuk masing-masing keadaan ini dikenal dengan istilah yang berbeda

kompetisi intra spesies adalah kompetisi antara tanaman dari spesies yang sama , sedangkan kompetisi inter spesies adalah kompetisi antar tanaman dari spesies yang berbeda. Istilah ini kemudian dapat diterapkan pada tingkat individu tanaman yaitu kompetisi intra tanaman adalah kompetisi diantara bagian -bagian tanaman pada suatu bagian tanaman yang sama. Dengan demikian kompetisi dalam budidaya tanaman adalah suatu peristiwa yang tidak dapat dihindarkan

Salah satu cara untuk mengetahui atau untuk mempelajari kompetisi inter spesies adalah dengan percobaan kepadatan tanaman perubahan pertumbuhan dan hasil tanaman akibat dari perubahan jarak tanam tentu adalah akibat persaingan di antara individutanaman yang sama. Pada percobaan kali ini media yang digunakan yaitu polybag. Persiapan yang dilakukan yaitu dengan menyiapkan 8 polybag yang sudah diisi dengan tanah , 8 polybag tersebut digunakan untuk 2 seri percobaan yaitu dengan tanaman jagung dan dengan tanaman kedelai

Untuk percobaan pertama, polybag 1 ditanam 6 benih jagung, polybag ke-2 ditanam 12 benih jagung, polybag ke-3 ditanam 18 benih jagung ,dan polybag ke-4 ditanam 24 benih jagung  sedangkan untuk percobaan kedua, cara yang sama dilakukan tetapi tanaman yang digunakan adalah kedelai. Untuk pengamatan, masing-masing polybag diambil 3 sampel tanaman yang akan diamati pertumbuhan tanamannya

Pengamatan terhadap sampel pada polybag 1 diperoleh hasil untuk tinggi rata-rata tanaman 38 cm dengan rata-rata diameter batang 2,07 cm. Untuk polybag ke-2 diperoleh hasil rata-rata tinggi tanaman 34,00 cm dengan rata-rata diameter batang 1,82 cm.

Sedangkan untuk polybag ke-3 diperoleh hasil untuk rata-rata tinggi tanaman 37,83 cm dengan rata-rata diameter batang 2,00 cm. Dan untuk polybag yang ke-4 diperoleh hasil rata-rata tinggi tanaman 39 cm dengan rata-rata diameter batang 1,83 cm

Untuk seri percobaan kedua yaitu dengan menggunakan tanaman kedelai, pada polybag 1 diperoleh hasil untuk rata-rata tinggi tanaman 10,50cm dengan rata-rata diameter batang 3,27 cm. Untuk polybag ke-2 diperoleh hasil rata-rata tinggi tanaman 8,83 cm cm dengan rata-rata diameter batang 2,93 cm. Sedangkan untuk polybag ke-3 diperoleh hasil untuk rata-rata tinggi tanaman 9,33 cm dengan rata-rata diameter batang 2,88 cm. Dan untuk polybag yang ke-4 diperoleh hasil rata-rata tinggi tanaman 10, 65 cm dengan rata-rata diameter batang 3,20 cm

Ada hubungan yang sangat besar antara hasil per satuan luas dengan kepadatan tanaman  yaitu peningkatan jumlah tanaman per  satuan luas mula-mula diikutidengan peningkatan hasil yang proporsional namun kemudian peningkatan hasil tidak lagi proporsionl seiringdengan peningkatan kepadatan lebih lanjut yang berarti kompetisi mulai bekerja. Persaingan yang lebih keras pada kepadatan tanaman yang lebih tinggi mengakibatkan tingkat hasil yang hampir konstan sebagai akibat dari penurunan hasil per satuan tanaman yang sebanding dengan pertambahan jumlah tanaman ( Sitompul, 1995)

Pada kondisi lapangan, kompetisi biasanya mulai terjadi setelah tanaman mencapai tingkat pertumbuhan tertentu dan kemudian persaingan akan semakin keras  seiring dengan pertambahan ukuran tanaman dengan umur. Apabila kedua individu atau kelompok tanaman yang bersaing dapat terus tumbuh, maka kualitas faktor pertumbuhan yang diperoleh masing-masing pihak akan semakin jauh dibawah yang dapat diperoleh pada keadaan tanpa kompetisi dengan semakin besar ukuran tanaman

Proporsi kuantitas faktor pertumbuhan yang diperoleh oleh suatu pihak akan proporsional dengan kemampuan kompetitifnya. Karena tanaman memperoleh faktor pertumbuhan dari organ tertentu yaitu terutama akar, untuk faktor yang terdapat dalam tanah dan daun, untuk faktor pertumbuhan yang berada diatas tanah, maka gaya kompetitif tanaman bergantung sebagian pada kapasitas kedua organ tersebut dalam melakukan fungsinya. ( Sitompul, 1995)

Kedua tanaman yang diuji yaitu jagung dan kedelai mempunyai pola respon yang relatif sama terhadap kepadatan tanaman , tetapi berbeda dalam tingkat hasil dan kepadatan tanaman, hal ini dapat dilihat berdasarkan data yang diperoleh , walaupun adanya kesalahan dalam pengambilan sangat mungkin terjadi.

SIMPULAN


Pengamatan terhadap sampel pada polybag 1 diperoleh hasil untuk tinggi rata-rata tanaman 38 cm dengan rata-rata diameter batang 2,07 cm. Untuk polybag ke-2 diperoleh hasil rata-rata tinggi tanaman 34,00 cm dengan rata-rata diameter batang 1,82 cm

Sedangkan untuk polybag ke-3 diperoleh hasil untuk rata-rata tinggi tanaman 37,83 cm dengan rata-rata diameter batang 2,00 cm. Dan untuk polybag yang ke-4 diperoleh hasil rata-rata tinggi tanaman 39 cm dengan rata-rata diameter batang 1,83 cm

Untuk seri percobaan kedua yaitu dengan menggunakan tanaman kedelai, pada polybag 1 diperoleh hasil untuk rata-rata tinggi tanaman 10,50cm dengan rata-rata diameter batang 3,27 cm. Untuk polybag ke-2 diperoleh hasil rata-rata tinggi tanaman 8,83 cm cm dengan rata-rata diameter batang 2,93 cm

Sedangkan untuk polybag ke-3 diperoleh hasil untuk rata-rata tinggi tanaman 9,33 cm dengan rata-rata diameter batang 2,88 cm. Dan untuk polybag yang ke-4 diperoleh hasil rata-rata tinggi tanaman 10, 65 cm dengan rata-rata diameter batang 3,20 cm

Kedua tanaman yang diuji yaitu jagung dan kedelai mempunyai pola respon yang relatif sama terhadap kepadatan tanaman , tetapi berbeda dalam tingkat hasil dan kepadatan tanaman, hal ini dapat dilihat berdasarkan data yang diperoleh , walaupun adanya kesalahan dalam pengambilan sangat mungkin terjadi.

Kompetisi " Pendahuluan"

Persaingan (kompetisi) tidak hanya terjadi terbatas pada suatu komunitas saja, tetapi di dalam populasi juga terjadi kompetisi yang disebut persaingan (kompetisi) intra spesies. Apabila di dalam komunitas lebih banyak terjadi persaingan inter spesies, sedangkan di dalam populasi kompetisi terjadi intra spesies (antar individu atau spesies yang sama)

Persaingan intra spesies terjadi apabila setiap individu dalam ppopulasi memiliki kebutuhan dalam memperoleh ruang hidup/tumbuh, air, cahaya matahari, nutrisi atau unsur hara dan sebagainya. Di sini tidak terjadi usaha saling mengendalikan atau menghambat pertumbuhan spesies yang lain, akan tetapi terbatas hanya persaingan untuk dapat tetap hidup. Oleh karena itu penggunaan bio-inhibitor atau alelopat pada persaingan semacam ini tidak begitu nyata

Pada awal pertumbuhan suatu tanaman, biasanya persaingan belum berlangsung karena daya dukung lingkungan masih dapat mencukupi kebutuhan setiap individu. persaingan tersebut mulai muncul pada saat tanaman mulai tumbuh dan berkembang, dan setiap individu membutuhkan dukungan unsur lingkungan secara optimal

Hal ini dapat diketahui dari kondisi habitus tanaman, perkembangan sistem perakaran atau biomassanya

Namun mengingat individu tanaman di dalam suatu populasi memiliki pola pertumbuhan serta kondisi bio-kimiawi yang relatif sama, maka pengaruh tahanan lingkungan (environmental resistant) lebih dominan dan secara simultan pertumbuhan dalam populasi tersebut akan terhambat

Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum ini yaitu agar praktikan dapat mempelajari perbedaan pertumbuhan tanaman sebagai akibat dari adanya persaingan intra spesies

Lingkungan " Pembahasan dan Simpulan"

Tanaman berhijau daun dalam menangkap energi matahari dan mengubahnya menjadi energi kimia melalui proses fotosintesa. Dalam proses fotosintesa, CO2 dan H2O diubah menjadi karbohidrat dan O2 dilepaskan ke udara

Karbohidrat sederhana yang dihasilkan fotosintesa melalui proses metabolisme diubah menjadi lipida asam nukleat, protein dan molekul organik lain. Molekul-molekul tersebut selanjutnya diubah menjadi batang, akar, daun, umbi, biji, jaringan dan sistem organ lainnya

Produksi senyawa organik oleh fotosintesa bergantung pada tersedianya unsur hara dan mineral, tersedianya air dan CO2, suhu yang sesuai, energi radiasi dan tidak terdapat nya senyawa toksin di sekitar tanaman. Faktor tersebut merupakan bagian dari lingkungan yang mempunyai keragaman yang cukup besar. Faktor dalam seperti jenis pigmen, tingkat enzim, dan derajat organisasi dari organ fotosintesa juga mempengaruhi fotosintesa. Faktor luar dan dalam dapat dinilai sebagai efisiensi tumbuhan dalam mengkonversikan energi matahari menjadi energi kimia

Cahaya menyediakan energi untuk fotosintesa, diharapkan laju fotosintesis akan respon karena adanya perubahan intensitas cahaya. Setiap tumbuhan mempunyai sekumpulan ciri khas yang berbeda , baik ditinjau dari segi fisiologi, anatomi maupun biokimia. Satu di antaranya adalah resspon terhadap perbedaan intensitas cahaya

Tumbuhan dengan kapasitas fotosintesa rendah mencapai laju fotosintesis neto pada intensitas cahaya yang relatif rendah, jauh dibawah cahaya penuh. Di pihak lain laju fotosintesa neto dari jenis tumbuhan kapasitas fotosintesis tinggi meningkat dengan naiknya intensitas cahaya.
Tanaman naungan dapat mengurangi hasil fotosintesis yang normal

Salah satu penyebabnya adalah adanya penurunan proses fotosintesis atau terjadinya proses penerimaan sampai penimbunan. Tumbuhan merupakan satu-satunya pengatur dalam memperkecil pengurangan sinar, kebutuhan sinar maksimum tergantung pada jarak tanam antara tanaman yang satu dengan tanaman yang lain

Pertumbuhan adalah proses dalam kehidupan tanaman yang mengakibatkan terjadinya perubahan ukuran tanaman yang semakin besar dan menentukan hasil tanaman. Pertambahan ukuran tanaman secara keseluruhan merupakan hasil dari pertambahan ukuran bagian atau organ tanaman akibat dari pertambahan jaringan sel yang dihasilkan oleh pertambahan ukuran sel.

Jumlah sel yang semakin banyak atau ruang yang semakin besar  membutuhkan semakin banyak bahan-bahan sel yang disintesis menggunakan substrat yang sesuai

Pada tanaman, substrat dapat dibatasi pada bahan anorganik dan unsur lain yang diambil dari lingkungannya seperti karbon dioksida, unsur hara, air dan kuanta radiasi matahari yang diolah menjadi bahan organik yang dapat diukur secara sederhana dengan pertambahan bobot keseluruhan tanaman atau bagian -bagian tanaman termasuk bagian yang dipanen dan parameter lain

Percobaan ini untuk mengetahui perbedaan pertumbuhan tanaman pada lingkungan yang berbeda yaitu dalam rumah kaca dan di lingkungan yang terbuka. Hasil dari pengamatan yang dilakukan terhadap tanaman yang di tempatkan di rumah kaca untuk polybag yang ditanam 2 biji kedelai rata-rata tinggi tanaman yaitu 30,450cm dan rata-rata diameter batang 2,25 cm dengan rata-rata biomassa 0,095 gr, untuk polybag ke-2 yang ditanam 4 biji kedelai rata-rata tinggi tanaman 32,3 cm dan rata-rata ukuran diameter batang 2,238 cm dengan rata-rata biomassa 0,25 gr, untuk polybag yang ditanami 6 biji kedelai rata-rata tinggi tanaman 30,150 cm dan rerata ukuran diameter batang 2,238 cm dengan rata-rata biomassa 0,36 gr dan untuk polybag yang ditanami  8 biji kedelai rata-rata tinggi tanaman 30,0 cm dan rata-rata ukuran batang 2,163 cm dengan rata-rata biomassa 0,4 gr

Pada polybag ke-5 yang ditanami 2 biji jagung diperoleh hasil untuk rata-rata tinggi tanaman 11,4 cm dan rerata ukuran diameter batang 2,93 cm sedangkan rata-rata biomassanya 0,20 gr. Pada polybag ke-6 yang ditanami 4 biji jagung diperoleh hasil untuk rata-rata tinggi tanaman 8,4 cm dan rata-rata ukuran diameter batang 2,350 cm sedangkan rata-rata biomassanya 0.18 gr. Pada polybag ke-7 yang ditanami 6 biji jagung diperoleh hasil untuk rata-rata tinggi tanaman 14,40 cm dan rerata ukuran diameter batang 3,025 cm sedangkan rata-rata biomassanya 0,19 gr. Pada polybag ke-8 yang ditanami 8 biji jagung diperoleh hasil untuk rata-rata tinggi tanaman 13,450 cm dan rerata ukuran diameter batang 2,913 cm sedangkan rata-rata biomassanya 0,35 gr

Hasil dari pengamatan yang dilakukan terhadap tanaman yang di tempatkan di tempat terbuka untuk polybag yang ditanam 2 biji kedelai rata-rata tinggi tanaman yaitu 18,9 cm dan rata-rata diameter batang 2,25 cm dengan rata-rata biomassa 0.33 gr, untuk polybag ke-2 yang ditanam 4 biji kedelai rata-rata tinggi tanaman 20,3 cm dan rata-rata ukuran diameter batang 2,38 cm dengan rata-rata biomassa 0,83 gr , untuk polybag yang ditanami 6 biji kedelai,  rata-rata tinggi tanaman 19,15 cm dan rerata ukuran diameter batang 2,3 cm dengan rata-rata biomassa 0,975 gr dan untuk polybag yang ditanami  8 biji kedelai rata-rata tinggi tanaman 20.8 cm dan rata-rata ukuran batang 2,263 cm dengan rata-rata biomassa 0,695 gr

Pada polybag ke-5 yang ditanami 2 biji jagung diperoleh hasil untuk rata-rata tinggi tanaman 5,8 cm dan rerata ukuran diameter batang 2,45 cm sedangkan rata-rata biomassanya 0,35 gr.

Pada polybag ke-6 yang ditanami 4 biji jagung diperoleh hasil untuk rata-rata tinggi tanaman 8,4 cm dan rata-rata ukuran diameter batang 2,350 cm sedangkan rata-rata biomassanya 0.18 gr. Pada polybag ke-7 yang ditanami 6 biji jagung diperoleh hasil untuk rata-rata tinggi tanaman 6,70 cm dan rerata ukuran diameter batang 2,4 cm sedangkan rata-rata biomassanya 0,49 gr. Pada polybag ke-8 yang ditanami 8 biji jagung diperoleh hasil untuk rata-rata tinggi tanaman 8,25 cm dan rerata ukuran diameter batang 2,53 cm sedangkan rata-rata biomassanya 0,36 gr

Keadaan lingkungan yang bervariasi dan adanya perbedaan tempat menyebabkan adanya perbedaan pertumbuhan pada tanaman. Untuk tanaman yang di tempatkan di tempat yang terbuka pertumbuhannya lebih cepat dari pada tanamn yang diletakkan di rumah kaca

SIMPULAN

1. Lingkungan hidup yang dimaksud terdiri atas lingkungan fisik (abiotik) dan lingkungan hayati (biotik).
2. Lingkungan abiotik meliputi tanah, air, udara, unsur iklim seperti temperatur/suhu, intensitas radiasi matahari, kelembaban udara dan hujan, gerakan udara (angin) dan sebagainya.
3. Sementara lingkungan biotik meliputi seluruh makhluk hidup yang ada, baik yang bersifat menguntungkan maupun merugikan begi organisme atau tanaman yang bersangkutan
4. Keadaan lingkungan yang bervariasi dan adanya perbedaan tempat menyebabkan adanya perbedaan pertumbuhan pada tanaman. Untuk tanaman yang di tempatkan di tempat yang terbuka pertumbuhannya lebih cepat dari pada tanamn yang diletakkan di rumah kaca.

Lingkungan " Pendahuluan"

Lingkungan atau lingkungan hidup (environment) berasal dari kata environner (Perancis) yang berarti mengelilingi. Lingkungan hidup dapat diartikan sebagai himpunan semua kondisi dan unsur baik unsur biotik maupun abiotik yang menghelilingi kehidupan suatu organisme atau makhluk hidup

Lingkungan hidup yang dimaksud terdiri atas lingkungan fisik (abiotik) dan lingkungan hayati (biotik). Lingkungan abiotik meliputi tanah, air, udara, unsur iklim seperti temperatur/suhu, intensitas radiasi matahari, kelembaban udara dan hujan, gerakan udara (angin) dan sebagainya.

Sementara lingkungan biotik meliputi seluruh makhluk hidup yang ada, baik yang bersifat menguntungkan maupun merugikan begi organisme atau tanaman yang bersangkutan

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman sebagai salah satu organisme, secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di sekelilingnya. Apabila kondisi lingkungan mendukung, seperti tersedianya materi dan energi yang dibutuhkan, maka tanaman tersebut akan tumbuh dan berkembang secara optimal.

Sebaliknya apabila kondisi lingkungan hidup tidak menguntungkan, maka pertumbuhan dan perkembangan tanaman akan terhambat atau mati. Oleh karena itu daya dukung lingkungan sangat penting dan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kelangsungan hidup suatu organisme

Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum ini yaitu agar praktikan mengetahui perbedaan tanaman yang ditanam pada lingkungan yang berbeda (di dalam rumah plastik/rumah kaca dan di tempat/ruang terbuka)

Siklus Karbon " Pembahasan dan Simpulan"

CO2  yang terkandung dalam atmosfir dan larut dalam air membentuk persediaan (sumber) C anorganik dari mana hampir semua C organik berasal. Fotosintesa, terutama oleh tanaman hijau, yang mengekstrak C dari cadangan batuan arang ini tercampur ke dalam molekul organik kompleks sebagai ciri bahan untuk hidup.

Beberapa molekul organik ini segera terurai lagi dan C-nya dilepaskan sebagai CO2 oleh tanaman sebagai respirasi, atau diubah dalam bentuk yang lebih kompleks dalam bahan sisa, atau tetap berada dalam hewan sampai mati

Biasanya sisa tanaman dan hewan mati dari tanaman maupun hewan diuraikan oleh pengurai, dan C-nya dilepas sebagai CO2.  Ingat bahwa apakah C mengikuti jalan pendek yang hanya mencakup 1-2 tingkatan tropis maupun jalan panjang yang mencakup 3, 4 atau 5 tingkatan tropis atau lebih, akan kembali sebagai CO2 ke udara atau air segera setelah terjadi. Ini adalah siklus yang sebenarnya (atau siklus kompleks saling mengikat); carbon selalu bergerak dari cadangan anorganik ke sistem hidup dan kembali lagi

Cadangan CO2 dalam atmosfir juga meningkat melalui oksidasi bahan organik segera setelah masuk ke tanaman yang tumbuh  didaerah yang baru di bersihkan  untuk dipakai jalan raya atau untuk bangunan atau utnuk tanah perairan. (tanah perairan mengikat CO2 lebih sedikit daripada vegetasi alam yang digantikannya, karena sangat produktif dalam waktu yang relatif singkat, sementara itu cadangan sisa organik yang terbangun dalam tanah oleh vegetasi alam lambat laun terurai, melepaskan C ke atmosfir  sebagai CO2

Pada percobaan untuk mempelajari adanya siklus carbon yaitu dengan menggunakan bantuan siput sebagai konsumer dan larutan Bromtimol Blue sebagai indikator. Cara pengamatan yaitu dengan mengamati perubahan warna larutan Bromtimol Blue yang terjadi

Pengamatan dilakukan 4 kali , untuk tabung A1 yang berisi siput dan terkena cahaya pada pengamatan pertama warna larutan biru tua, kemudian tabung A1 ditempatkan di tempat yang tidak terkena cahaya, warna larutan tetap biru tua, kemudian tabung dipindah ketempat yang terkena cahaya, warna larutan berubah menjadi ungu kekuningan dan terakhir tabung tersebut dipindah ke tempat yang tertutup warnanya tetap ungu kekuningan.

Untuk tabung B1 yang diisi siput tetapi awalnya ditaruh ditempat gelap, warnanya hijau kuning tua dan pada saat pengamatan terakhir ,warna larutan nya menjadi kuning

Pengamatan pada tabung A2 yang berisi siput dan hidrylla dan mendapat perlakuan yang sama seperti tabung A1 ,pada pengamatan ke-1 warna larutan hijau muda kekuningan dan pada pengamatan ke4 warna larutan menjadi kuning. Sedangkan untuk tabung B2 yang isinya sama dengan tabung A2 dan perlakuannya sama dengan B1, pada pengamatan pertama warnanya hijau kuning muda dan pada saat pengamatan terakhir ,warna larutan berubah menjadi kuning

Pengamatan pada tabung A3 yang hanya diisi Hidrylla dan mendapat perlakuan yang sama dengan A1, pada pengamatan ke-1 warna larutan hijau tua dan pada saat pengamatan ke-4 warna larutan berubah menjadi biru kehijauan. Untuk tabung B3 yang diisi oleh Hidrylla dan mendapat perlakuan yaang sama dengan tabung B1 warna yang etrjadi pada saat pengamatan ke 1 adalah hijau kebiruan dan pada saat perngamatan ke4 warnanya sudah menjadi biru

Tabung A4 dan B4 yang digunakan sebagai kontrol dan mendapat perlakuan yang sama dengan tabung yang lain namun hanya berisi air dan 10 tetes larutan Bromtimol Blue , warnanya dari pengamatan pertama sampai pengamatn terakhir warnanya tidak berubah yaitu biru

Adanya perubahan warna yang terjadi menunjukan adanya siklus karbon , kebanyakan tumbuh-tumbuhan meningkatkan laju fotosintesisnya jika baik konsentrasi CO2 naik ataupun konsentrasi O2 secara percobaan menurun.
Karbon dioksida dan bahan makanan organik dimanfaatkan oleh konsumer , yang dalam percobaan ini adalah siput dan hidrylla, dan juga dekomposer yang dalam sirkulasinya dirangsang oleh adanya sinar matahari atau cahaya walaupun mungkin dibatasi oleh konsumer dan dekomposer tersebut.

Karbon dioksida yang dilepaskan melalui pernafasan dapat dimanfaatkan kembali oleh produsen dalam fotosintesa. Oksigen yang dihasilkan dapat digunakan untuk respirasi.

SIMPULAN

Karbon merupakan salah satu unsur yang penting bagi kehidupan organisme, karena konfigurasi semua molekul roganik berbasiskan unsur ini. Karbon beredar di dalam biosfer dalam bentuk karbondioksida (CO2) yang berupa gas, sehingga siklusnya tergolong ke dalam sikluis tipe gas.
Karbon dioksida dan bahan makanan organik dimanfaatkan oleh konsumer , yang dalam percobaan ini adalah siput dan hidrylla
Tumbuh-tumbuhan meningkatkan laju fotosintesisnya jika baik konsentrasi CO2 naik ataupun konsentrasi O2 secara percobaan menurun

Siklus Karbon "Bahan , Alat dan Prosedur Kerja"

1.Bahan

     a.Tumbuhan air (Hydrilla sp) yang berperan sebagai produser
     b.Siput (keong emas) yang berperan sebagai konsumer
     c.Larutan Bromtimol blue (sebagai indikator) dan air

2.Alat

     a.Tabung biakan berupa stoples plastik
     b.Plastik hitam yang tidak terkena cahaya (polybag), karet dan alat lainnya 

PROSEDUR KERJA

1. Disiapkan dua seri percobaan A dan B, masing-masing terdiri atas 4 tabung biakan. Diberi label pada setiap seri tabung biakan dengan kode A1, A2, A3 dan A4 untuk seri A, serta B1, B2, B3 dan B4 untuk seri B
2. Setiap tabung biakan diisi dengan air sampai penuh kurang lebih 1000 ml, serta ditambahkan 10 tetes larutan bromtimol blue

3. Dimasukkan ke dalam tabung biakan A1 dan B1 siput, A2 dan B2 siput dan Hydrilla, A3 dan B3 Hydrilla saja, A4 dan B4 tidak diisi (tanpa siput dan Hydrilla) sebagai kontrol. Semua tabung ditutup rapat

4. Seri percobaan A (A1-A4) ditempatkan di dalam ruangan yang terang (ada cahaya) danseri percobaan B (B1-B4) ke dalam ruang gelap (tanpa cahaya) atau dapat pula tabung biakan dibungkus dengan plastik hitam

5. Setelah 24 jam, diamati semua tabung biakan dengan mencatat semua perubahan yang terjadi pada warna Bromtimol blue

6. Setelah semua diamati, tabung biakan seri A dipindahkan ke dalam ruangan gelap atau dibungkus dengan plastik hitam, tabung biakan seri B dipindah ke dalam ruang yang terang atau bungkusnya plastik hitam dilepas/dibuang

7. Diulangi prosedur 5 dan 6 pada hari ke-3 dan ke-4 serta dilakukan pengamatan yang sama.

Siklus Karbon "Pendahuluan"

Karbon merupakan salah satu unsur yang penting bagi kehidupan organisme, karena konfigurasi semua molekul roganik berbasiskan unsur ini. Karbon beredar di dalam biosfer dalam bentuk karbondioksida (CO2) yang berupa gas, sehingga siklusnya tergolong ke dalam sikluis tipe gas

Dalam garis besarnya terdapat 3 sumber karbon utama yaitu di dalam atmosfer (dalam bentuk karbondioksida), di dalam lautan (dalam bentuk terlarut) dan di dalam bumi (batuan kapur atau minyak fosil)

Proses peredaran unsur ini mencakup wilayah yang sangat luas yang meliputi atmosfer, bumi dan lautan. Sirkulasinya dikenal sebagai siklus biogeokimia, karena dalam sirkulasinya melibatkan organisme hidup (biotik) dan juga unsur abiotik di dalam sistem biosfer

Untuk mempelajari jalannya siklus karbon, dapat dilakukan dengan mengamati siklus yang terjadi di dalam ekosistem yang lebih sempit/kecil. Misalnya di dalam botol biaka, akuarium, rumah kaca dan sebagainya, yang di dalamnya mengandung unsur dari komponen biotik maupun abiotik

Pada prinsipnya siklus karbon di suatu tempat berlangsung melalui proses pertukaran energi dan materi yang berlangsung antara kedua komponen tersebut

Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum ini yaitu agar praktikan dapat mempelajari jalannya siklus karbon mendasarkan kepada interaksi antara unsur dari komponen yang terlibat di dalam ekosistem yang bersangkutan.

Ekosistem Terestrial "Bahan , Alat dan Prosedur Kerja"

1.    Bahan

a.  Materi praktikum di lapangan :
    •  Ekosistem pertanian, yaitu pertanaman nilam.
    •  Ekosistem padang rumput, yaitu pertanaman Gliricidae.
    •  Ekosistem hutan, yaitu hutan pinus.

b.  Bahan kimia (H2O2, deterjen, H2O)

2.Alat

• Tali rafia       
• Rollmeter
• Soil tester
• Soil thermometer
• Lux meter   
• pH meter
• Thermo-hygrometer
• Kompas
• Altimeter
• Alat tulis

III.    Prosedur Kerja

1.  Tipe ekosistem yang akan diamati ditentukan terlebih dahulu.
2. Dilakukan pengamatan lapang dengan menggunakan metode transec line dan metode cuplikan (square method).
3. Dilakukan inventarisasi:
      a.Komponen biotik yang meliputi produser (tanaman, gulma/tanaman liar), mikrokonsumer (patogen/penyakit), makrokonsumer (hewan ternak/liar, hama, manusia).
      b.Komponen abiotik yang meliputi senyawa organik, energi (utama, dari luar), lingkungan fisik/abiotik yang lain yang terdapat di dalam ekosistem yang bersangkutan.
4. Digambar hubungan yang ada di dalam ekosistem yang bersangkutan.
5. Dilakukan pengamatan aspek pengelolaan ekosistem yang bersangkutan yang meliputi:
      a. Jenis tanaman (semusim/tahunan), ditulis nama tanamannya (nama ilmiah dan daerahnya).
      b.Pola pertanaman (single/mono/sole cropping (culture), duble/mix cropping (tumpangsari), double bertingkat atau double yang lain, disebutkan jenis tanamannya.
      c.Jarak tanam yang digunakan (teratur/tidak teratur, ukuran jarak tanam).
      d.Tanaman/benda penyagak (ajir, tanaman penegak, peneduh, dan lain-lain).
6. Dilakukan pengamatan aspek lingkungan mikro yang meliputi:
      a.Tinggi tempat di atas permukaan laut.
      b.Rh tanah, pH tanah, tingkat dan arah kemiringan lahan.
      c.Rh udara
      d.Kondisi geografi
7.Dilakukan pengamatan aspek pengelolaan iklim mikro yang meliputi:
      a.Cahaya (sungkup, peneduh, dll)
      b.Tanah (bentuk/model teras, alur/kedalaman saluran pengairan/drainase, dsb)
      c.Air (sistem irigasi, tadah hujan, artificial, dll)
8.Dilakukan pengamatan aspek pengelolaan flora/fauna di sekitarnya (hama, patogen/penyakit, dan gulma).
9.Diambil gambar/foto kondisi hamparan ekosistem yang bersangkutan

Ekosistem Terestrial "Pendahuluan"

Suatu organisme hidup akan selalu membutuhkan organisme lain dan lingkungan hidupnya. Hubungan yang terjadi antara individu dengan lingkungannya sangat kompleks, bersifat saling mempengaruhi atau timbal balik. Hubungan timbal balik antara unsur-unsur hayati dengan nonhayati membentuk sistem ekologi yang disebut ekosistem

Ekosistem merupakan sistem yang terbentuk karena adanya interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Southwick (1976) memberikan pengertian secara lebih rinci bahwa ekosistem sadalah suatu kawasan atau satuan organisasi  yang terdiri atas komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi untuk menghasilkan materi dan energi yang saling dipertukarkan di antara kedua komponen tersebut
.
Ekosistem yang dinamik selalu terjadi proses yang bersifat kompleks menurut pola dan kaidah tertentu. Proses tersebut meliputi aliran energi (energy flux), rantai makanan (food chain), pengendalian (cybernetic), keanekaragaman (diversity), siklus biogeokimia (biogeochemical cyclus), serta perkembangan (population dynmic) dan evolusi (evolution) Adanya perubahan-perubahan pada populasi mendorong perubahan pada komunitas

Perubahan-perubahan yang terjadi menyebabkan ekosistem berubah. Perubahan ekosistem akan berakhir setelah terjadi keseimbangan ekosistem. Keadaan ini merupakan klimaks dari ekosistem. Apabila pada kondisi seimbang datang gangguan dari luar, keseimbangan ini dapat berubah, dan perubahan yang terjadi akan selalu mendorong terbentuknya keseimbangan 
Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum ini yaitu agar praktikan mengenal berbagai macam tipe ekosistem terestrial dengan mengamati komponen dan unsur yang ada serta kedudukannya di dalam ekosistem yang bersangkutan